Minggu, 26 April 2015

LATIHAN DASAR PEMERANAN

Tubuh manusia sebagai unsur utama dalam pementasan teater harus selalu dilatih agar dapat memerankan sebuah karakter dengan baik. Salah satu proses pembelajaran Seni Budaya di SMK Paramitha 1 Jakarta adalah latihan dasar pemeranan. Berikut adalah cuplikan proses pembelajaran latihan olah tubuh yang dilakukan di SMK Paramitha 1 Jakarta. Silahkan menyaksikan slide berikut dengan cara mengcopy link dan membuka di jendela baru :
Selamat menyaksikan

http://www.kizoa.com/Video-Maker/d19910507k3942059o1l1/latihan-dasar-pemeranan-di-smk-paramitha-jakarta

Selasa, 21 April 2015

APRESIASI SENI RUPA DI MUSEUM SENI RUPA KERAMIK JAKARTA



Pada hari Sabtu tanggal 28 Februari SMK Paramitha mengadakan sebuah kegiatan apresiasi seni rupa dengan mengunjungi Museum Seni Rupa dan Keramik yang berlokasi di daerah Jakarta Kota. Kegiatan ini merupakan rangkaian pembelajaran pada mata pelajaran Seni Budaya yang dilakukan di SMK Paramitha. Siswa dan siswi diberi kesempatan untuk mengenal sejarah seni rupa bangsa Indonesia melalui koleksi simpanan museum seni rupa dan keramik.

Selain kegiatan kunjungan, siswa-siwi SMK Paramitha juga melakukan deskripsi singkat mengenai koleksi museum. Mereka diminta untuk memilih salah satu koleksi museum kemudian mendeskripsikannya secara sederhana objek lukisan yang mereka pilih. Bahan deskripsi seperti pelukisnya, tahun pembuatan, media dan bahan serta simbol-simbol dalam lukisan Berikut adalah salah satu contoh kegiatan mendeskripsikan objek lukisan.




Setelah melakukan kunjungan dan deskripsi objek lukisan di museum seni rupa dan keramik, mereka melakukan kunjungan ke Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah. Disana mereka mendapat penjelasan mengenai sebuah lukisan karya S.Sudjojono yang sangat terkenal yaitu lukisan tentang Sultan Agung yang menyerang Batavia pada tahun 1628 dan 1629. Lukisan ini menjadi salah satu hasil karya maestro pelukis Indonesia yang menjadi lukisan terbesar di Indonesia saat ini.



Kunjungan ke Museum Fatahillah menandai berakhirnya kegiatan apresiasi ini. Seluruh peserta apresiasi diharapkan bisa menghargai hasil karya para seniman Indonesia terutama para perupa yang telah memberikan kebanggan bagi bangsa Indonesia.

(yosirespati@gmail.com)

Senin, 13 April 2015

BENTUK-BENTUK PAMERAN SENI RUPA


Dok. koleksi pribadi


1.   Bentuk pameran berdasarkan tempat dan waktu pameran adalah sebagai berikut.

a.     Pameran permanen atau tetap 
adalah bentuk pameran yang tidak terikat oleh lamanya waktu. permanen artinya tidak pernah tutup dan tidak terikan oleh waktu. Contohnya, museum dan art gallery.

b.     Pameran rutin 
adalah pameran yang selalu diadakan dalam waktu-waktu tertentu, misalnya pameran seni rupa yang diadakan tiap tahun sekali dan pameran ARSIP Tulungagung yang memuat budaya,sejarah,sosial dan agama.


c.      Pameran insidental 
adalah pameran yang diadakan dengan maksud dan tujuan tertentu yang tidak terikat oleh rutinitas pelaksanaannya. Misalnya, pameran akhir studi, pameran penyerta seminar, atau pameran menyambut kunjungan tamu.

2.   Bentuk pameran berdasarkan ragam karya yang dipamerkan adalah sebagai berikut.

a.     Pameran homogen 
adalah suatu penyelenggaraan pameran dengan menampilkan karya  seni dari salah satu cabang seni saja. Karya seni yang dipamerkan tersebut tidak tergantung dari jumlah peserta pameran atau pemilik karya.

b.     Pameran heterogen
adalah penyelenggaraan pameran yang menampilkan beberapa cabang seni rupa pada waktu dan tempat, serta peristiwa yang sama.

3.   Bentuk pameran berdasarkan jumlah peserta pameran dibedakan sebagai berikut.

a.     Pameran tunggal 
adalah pelaksanaan pameran yang menampilkan beberapa karya seorang seniman saja

b.      Pameran kelompok 
adalah pelaksanaan pameran dengan menampilkan karya-karya dari beberapa orang (seniman) dalam satu tempat.

Fungsi Pameran

Penyelenggaraan pameran dapat menimbulkan dampak positif terhadap seniman (peserta pameran) ataupun apresiator (masyarakat atau pemirsa seni). Fungsi pameran, antara lain sebagai berikut.

1. Sarana peningkatan daya ekspresi seniman.
2. Pemicu kreativitits seniman.
3.  Media penampilan jati diri seniman.
4.  Media memperluas cakrawala (wawasan) pengetahuan seni.
5.  Sebagai tolok ukur perkembangan seni rupa.
6.  Potret perkembangan seni rupa.
7.  Sebagai media komunikasi seniman dengan apresiator.
8.  Menambah atau memajukan pengetahuan dan pengalaman apresiator.
9.  Dorongan rasa cinta terhadap karya-karya seni rupa.
10. Wahana pemunculan ide, aliran, dan jenis seni rupa yang lebih baru (kontenporer)

Tujuan Pameran Seni Rupa bagi Siswa

Penyelenggaraan pameran seni rupa dalam pendidikan (pameran studi) ataupun menghadiri pameran seni rupa yang digelar memiliki tujuan, antara lain:


1. meningkatkan apresiasi siswa untuk berkarya seni.
2. membangkitkan semangat bagi siswa.
3. melatih siswa untuk memberikan evaluasi pada karya seni.
4. melatih kerja kelompok dan melatih berorganisasi.
5. mendidik siswa lebih mandiri dan meningkatkan rasa tanggung jawab siswa



Sumber :  

KRITIK TEATER




Pengertian

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tahun 2008, kritik diartikan sebagai kecaman, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat dan sebagainya. Berdasarkan pengertian diatas maka kritik teater adalah pertimbangan baik buruk terhadap kemampuan seseorang dalam menampilkan suatu karya teater. Dengan kata lain kritik teater dalam pertunjukkan teater memperlihatkan objektivitas unsur-unsur teater seperti tata pentas, rias, musikalisasi, dan tidak kalah pentingnya adalah teknik pemeranan para pemainnya.
Jika diartikan secara umum boleh dikatakan kritik teater merupakan ulasan, tanggapan, penilaian, penghargaan terhadap objek yang dikritik yakni karya seni teater. Ulasan atapun tanggapan harus memiliki dasar atau argumentasi yang mantap sehingga hasil tanggapan tersebut dapat objektif dan dipertanggungjawabkan. Karya teater yang akan diapresiasi bisa secara langsung disaksikan di gedung pertunjukkan atau tidak langsung melalui rekaman video,siaran ulang atau internet

Jenis Kritik

Menurut Feldman (1967) ada beberapa tipe kritik karya seni yaitu :

1.      Kritik Populer (popular criticism), adalah kritik yang ditujukan untuk kalangan umum dengan menggunakan gaya bahasa dan istilah yang sederhana dan dipahami oleh orang awam. Pada dasarnya implikasi kritik seni popular ditulis oleh sebagian besar penulis yang tidak menuntut keahlian kritis. Masyarakat akan terus membuat penilaian kritis, tanpa mempertimbangkan apakah penilaian yang mereka lakukan tepat atau tidak.
Jenis kritik ini berkembang diseluruh dunia, termasuk Indonesia. Tipe kritik popular adalah suatu gejala umum dan kebanyakan dihasilkan oleh para kritikus yang tidak ahli, terutama dilihat dari aspek profesionalisme kritisme seni.

2.      Kritik Jurnalistik (journalistic criticism), tipe kritik ini ditulis untuk para pembaca surat kabar dan majalah. Tujuannya memberikan informasi tentang berbagai peristiwa dalam dunia kesenian. Isi dari kritik Jurnalistik berupa ulasan ringkasan dan jelas mengenai suatu pameran, pementasan, konser, atau jenis pertunjukan seni lain di tengah mesyarakat. Karakteristik utama kritik Jurnalistik adalah aspek pemberitahuan.
Kewajiban seorang kritikus jurnalistik adalah memuaskan rasa ingin tahu para pembaca yang beragam, di samping untuk menyampaikan fenomena keindahanyang menggugah rasa keindahan. Pada umumnya kritikus menghindari penulisan yang panjang, agar tidak menyita kolom pemberitaan secaraberlebihan. Majalah Time dan Tempo di Indonesia merupakan contoh media yang menerapkan tipe kritik jurnalistik dalam rubric kesenian mereka.
Karena seringnya kritik tipe ini ditulis dan waktu penulisan yang terbatas, maka informasi yang disampaikan memiliki resiko tidak akurat. Penarikan kesimpulan yang cepat dan analisis yang dangkal menyebabkan kritikus cenderung menyimpulkan interpretasi seninya, tanpa analisis dan pembuktian yang valid. Bagi seseorang yang cermat mengamati tipe  kritik jurnalistik, akan menyadari pengetahuan atau pemahaman kritikus hanya berisi sekumpulan opini tentang reputasi seni kontemporer yang sedang berkembang.

3.      Kritik Keilmuan (scholarly criticism), Kritik ilmiah atau kritik akademi adalah istilah yang digunakan di Indonesia sebagai alih bahasa dari scholary criticism sebagaimana  disebutkan oleh Feldman. Kritik ilmiah biasanya melakukan pengkajian  nilai seni secara luas, mendalam, dan sistematis, baik dalam menganalisis maupun dalam  melakukan kaji banding kesejarahan critical judgment.
Penilaian kritik ilmiah sesungguhnya tidak bersifat mutlak, sama seperti pengetahuan lmiah lainnya, jenis kritik ini bersifat terbuka dan siap dikoreksi oleh siapa saja, demi penyempurnaan dan mencari nilai karya seni yang sebenarnya. Kritik seni ilmiah sama sekali tidak bermaksud mengilmiahkan seni, jenis kritik ini hanya meminjam sarana ilmiah untuk melakukan penilaian seni yang lebih akurat. Misalnya, menggunakan prosedur penelitian untuk mengumpulkan data yang lengkap, sebagai bukti konkret untuk melakukan penilaian yang logis, sehingga kesimpulan kritik yang dihasilkan dapat mengungkap makna seni berdasarkan bukti-bukti yang dikemukakan.

4.      Kritik Pendidikan (pedagogical criticism), Kritik seni pedagogic diterapkan dalam kegiatan proses belajar mengajar di lembaga pendidikan kesenian. Jenis kritik ini dikembangkan oleh para dosen dan guru kesenian, tujuannya terutama mengembangkan bakat dan potensi artistic-estetik peserta didik, agar memiliki kemampuan mengenali bakat dan potensinya.
Para pendidik seharusnya memahami standar nilai dunia seni professional dan mampu berperan sebagai seorang kritikus, meskipun standar dunia seni profesional tersebut tidak digunakan sebagai kriteria untuk menilai karya peserta didiknya. Satu hal yang sulit bagi seorang pendidik seni ialah keterlibatan kapasitas kritisnya dalam proses pengajaran. Dia harus sadar bahwa kegiatan menganalisis dan menafsirkan karya murid-muridnya adalah untuk kemajuan dan kepentingan peserta didik itu sendiri. Kritikus pedagogik membimbing bagaimana proses menganalisis dan menafsirkan nilai seni dan memahami karakter seni yang dibuatnya.
Sejak karya seni memiliki implikasi sosial (seni dibuat untuk orang lain, untuk dimiliki, dipakai, atau dikagumi, maupun untuk dinikmati sendiri) maka para pendidik seni wajib merespon secara kritis peserta didiknya, mulai dari proses pembuatan karya seni sampai menyelesaikannya. Pada system pendidikan tradisional, penentuan selesainya sebuah karya ditentukan oleh dosen atau guru seni. Namun dalam system pendidikan modern penentuan selesainya sebuah karya seni merupakan hasil kerja sama antara  guru seni dan muridnya.

Jika dilihat dari fungsinya maka menurut Saini, kritik dapat dibedakan menjadi ;

1.      Kritik Konstruktif yaitu kritik yang dilakukan oleh kritikus teater berisi ulasan dan tanggapan tentang karya teater akan tetapi memiliki kecenderungan untuk tidak menjatuhkan senimannya atau membingungkan pembacanya. Jenis kritik ini bertujuan agar sang seniman mampu meningkatkan kualitas karyanya sehingga kritik ini bersifat positif dan membangun

2.      Kritik Destruktif yaitu kritik yang dilakukan kritikus teater berisi ulasan dan tanggapan tajam tentang karya teater dengan kecenderungan pesimis dan negatif, kadangkala menjatuhkan semangat sang seniman.

Alat Kritik Seni

Tidak setiap orang mampu melakukan kritik terhadap suatu karya seni teater.Hanya orang-orang yang memiliki kemampuan dan konsisten di bidangnyalah yang bisa membuat kritikan secara objektif.
Menurut H.B Jassin, untuk menjadi seorang kritikus apalagi kritikus seni harus memiliki kemampuan dan pengetahuan khusus, antara lain berbakat seniman, berjiwa seniman, berjiwa besar, serta berpengalaman. Seorang kritikus dalam melakukan tugasnya selalu menggunakan kepekaan untuk mengetahui, menemukan, memaparkan, menjelaskan dan memahami karya teater.
Tidak berbeda dengan H.B Jassin, Berry Andhika juga mensyaratkan hal-hal tertentu dalam mengkritik hasil karya seni. Menurutnya,tingkat kepakaran seorang kritikus menurut keahlian dan persyaratan tersendiri, sehingga bobot penilaian yang dilakukannya cukup meyakinkan bagi para pembaca. Bekal atau perlengkapan yang harus dimiliki kritikus seni sehingga penilaiannya berbeda dengan orang kebanyakan, sebagai berikut:

1.      Seorang kritikus harus mempunyai cita rasa seni yang terbuka, artinya mempunyai kapasitas mengahargai kreativitas artistic yang sangat beragam. Mengapresiasikan dengan baik karaya seni yang eksis di berbagai tempat dan zaman.

2.      Seorang kritikus memerlukan studi formal di lembaga tinggi kesenian, khususnya tentang sejarah kesenian dan sejarah kebudayaan.

3.      Seorang kritikus harus berpengalaman mengamati dan menghayati seni secara orisinal, baik di studio, gedung pertunjukan, sanggar, maupun di museum. Pengalaman otentik ini diperlukan, sebab sukar dan mustahil mendapat pengalaman otentik dari slide, buku atau reproduksi karya seni belaka.

4.      Seorang kritikus harus mampu secara imajinatif merekapitulasi faktor teknik karya seni, sehingga mengetahui bagaimana proses pembuatan karya yang menjadi objek kritiknya.

5.      Seorang kritikus perlu mengetahui benar peristilahan seni, style seni, fungsi seni, opini penting para seniman dan pakar estetika secara periodic, disamping memahami konteks sosial dan kebudayaan yang melatar belakangi kreasi seorang seniman.

6.      Seorang kritikus harus paham betul pebedaan antara niat artistic dengan hasil atau penyampaian artistic, sehingga dia mampu meluhat senjangan antar keduanya. Niat, amanat, pernyataan, atau nilai yang ingin dekspresikan seniman tidak selalu persis terungkap dalam hasil kreasi seninya.

7.      Seorang kritikus harus mampu melawan bias atau simpati terhadap karya seniman tersebut yang dikenalnya secara pribadi. Sebaliknya, mampu pula secara ojektif dan penuh kearifan mengakuo keunggulan seorang seniman, meskipun seniman tersebut berbeda pendapat. Dengan kata lain perbedaan pendapat tidak mempengaruhi penilaian objektif seorang kritikus.

8.       Seorang kritikus harus harus memiliki kesadaran kritis. Hal ini berkaitan dengan karya seni yang berbeda itu. Sikap netral dan demokratis adalah basis kearifan penilaina seni.

9.       Seorang kritikus seni profesional harus memiliki temperamen judisial, dalam praktiknya ini berarti kemampuan menilai seni dengan cara yang tidak tergesa-gesa. Aktivitas menilai seni memerlukan bukti dan kesaksian akurat. Diperlukan waktu untuk mencerap berbagai kesan, asosiasi, sensasi, yang diberikan karya seni. Hal ini diperlukan agar kritikus dapat secara hati-hati dan cermat menganalisis dan manafsirkan nilai kerya seni dengan bujaksana dan cerdas.

Tujuan Kritik Teater

Tujuan kritik seni teater adalah evaluasi seni teater, apresiasi seni teater, dan pengembangan seni ke taraf yang lebih kreatif dan inovatif. Bagi masyarakat kritik seni berfungsi untuk memperluas wawasan seni terutama seni teater. Bagi seniman kritik tampil sebagai ‘cambuk’ kreativitas. Suatu ketika kritik seni berperan memperkenalkan karakteristik seni baru. Kebangkitan seni modern, misalnya, sukar dipisahkan dari aktivitas kritik.
Dalam eksistensi kritik seni seperti yang diuraikan di atas, tampak peran kritik sangat vital menentukan perkembangan seni ditengah masyarakat, terutama untuk kritik karya teater.

Unsur-Unsur Kritik Teater

Untuk lebih memahami mengenai kritik dalam teater, disini akan disebutkan unsur-unsur yang membangun sebuah kritik teater. Setidaknya ada 3 unsur dalam kritik teater, yaitu;
1.      Kreator Teater yaitu seniman pembuat teater dalam hal ini adalah sutradara
2.      Karya Seni yaitu bentuk, wujud karyanya atau pertunjukkannya sendiri
3.      Pembaca, apresiator, atau penikmat seni

Langkah-Langkah Menulis Kritik Teater

Menurut Feldman (1967:469) dalam teori kritik seni dikenal empat tahap meliputi; deskripsi, analisis, interpretasi, dan evaluasi.

1.      Deskripsi
Deskripsi adalah suatu proses pengumpulan data karya seni yang tersaji langsung kepada pengamat. Dalam mendeskripsikan karya seni, kritikus dituntut menyajikan keterangan secara objektif yang bersumber pada fakta yang terdapat dalam karya seni. Kritikus teater akan menguraikan unsur-unsur yang membangun karya tersebut dan menguraikan proses pembuatan karya tersebut.
Seorang kritikus teater dan film akan menguraikan sinopsis, termasuk aspek tokoh, akting, dialog, dan penampilan aktor/aktris utama dan pemeran pembantu dalam sebuah pementasan teater atau pertunjukan film yang menjadi objek kritik.
Data ini diperlukan karena sifatnya bisa mempengaruhi persepsi kritikus dalam hal pemahaman dan penilaian kritisnya nanti. Dalam pembuatan deskripsi perlu dihindari interpretasi terhadap karya seni, kesan pribadi kritikus ketika mengamati karya seni bukan termasuk bagian dari deskripsi, jadi deskripsi berarti menguraikan fakta seni sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya, tanpa tafsiran yang sifatnya ilusif dan imajinatif.
Disamping mendeskripsikan adegan, suasana, kritikus juga menerangkan pentas, tata cahaya, dan dekorasinya, sekaligus mengutip puisi yang dibacakan. Dengan teknik mendeskripsi seperti ini, tentu saja pembaca kritik mendapatkan informasi yang lengkap.

2.      Analisis
Pada tahap analisis, tugas kritikus adalah menguraikan kualitas elemen seni. Dalam karya teater maka seorang kritikus tidak hanya menafsirkan makna adegan atau simbol-simbol tata cahaya, tata pentas, tata rias saja akan tetapi juga menganalisis sejauh mana vokal pemain, mimik, penokohannya,ekspresi, penjiwaan dan plot atau alur cerita.

Ide seorang kritikus sangat penting dalam menganalisis karya seni. Hasil karya seni, selanjutnya akan menjadi fakta objektif bagi kritikus untuk menafsirkan makna seni. Hal ini penting dalam upaya menilai seni secara kritis. Pada dasarnya tahap analisis adalah mengkaji kualitas unsur pendukung bahan pembentuk yang telah dihimpun dalam data deskripsi.

3.      Interpretasi
Interpretasi dalam kritik seni adalah proses mengemukakan arti atau makna karya seni dari hasil deskripsi dan analisis yang cermat. Kegiatan ini tidak bermaksud menemukan nilai verbal yang setara dengan pengalaman yang diberikan karya seni. Juga bukan dimaksudkan sebagai proses penilaian.

Aktifitas interpretasi merupakan sebuah tantangan dan tentu saja merupakan bagian penting. Namun, dalam kegiatan ini kritikus tidak berada dalam posisi menilai, tetapi memutuskan apa makna seni, tema karya, masalah artistik, masalah intelektual karya seni, dan akhirnya menyimpulkan karya seni sebagai satu kesatuan yang utuh.

Dalam menafsirkan karya seni, kritikus bertolak dari data deskripsi dan analisis (yang telah dilakukan sebelumnya) untuk menghasilkan sebuah hipotesis tentang karya seni yang bersangkutan. Perlu asumsi yang melandasi dalam menginterpretasikan karya seni. Diasumsikan bahwa seni mempunyai kejelasan atau implikasi isi ideologis (bukan dalam arti politis). Diasumsikan pula bahwa objek seni adalah hasil karya manusia yang tidak bisa lepas dari aspek sistem nilai penciptanya. Karya seni tidak dapat dipisahkan dari wahana ide senimannya.

Untuk tujuan penafsiran dalam kritik seni, hipotesis adalah suatu ide atau prinsip organisasi yang berhubungan erat dengan materi deskripsi dan analisis.

4.       Evaluasi
Evaluasi karya seni dengan metode kritis berarti menetapkan rangking sebuah karya dalam hubungannya dengan karya lain yang sejenis, untuk menentukan kadar artistik dan faedah estetiknya. Dalam aktifitas ini dikenal model evaluasi dengan studi komparatif historis.

Penilaian orisinilitas adalah instrumen penilaian kritis yang menjelaskan ide karya, yakni dengan mengidentifikasikan masalah artistik yang akan dipecahkan, apa fungsi seni, ada tidaknya inovasi ekspresi artistik, dan akseleransi teknik artistiknya.

Penilaian teknik seni adalah mengukur kelogisan penggunaan materi dan instrumen seni dengan korelasinya dengan bentuk dan fungsi seni. Dalam konteks karya yang anti teknik, anti estetis, anti seni, dan karya-karya vulgar lainnya penilaian ditekankan pada aspek intelektualnya, yakni bobot ide yang menyertai karya seni tersebut. Sebab tanpa isi pikiran, sebuah karya tergolong tidak bermanfaat, karena tidak relevan dengan kehidupan dan kemanusiaan kita.
Nah, bagaimana dengan penjelasan diatas? Semoga anda bisa memahaminya dengan baik. Agar lebih memahami materi kritik teater maka akan diberikan salah satu contoh kritikan seni teater.

LATIHAN

Agar Anda lebih memahami materi kritik karya teater pada buku Seni Budaya halaman 437, maka carilah sebuah tulisan kritik mengenai sebuah karya teater melalui majalah, jurnal seni, internet dan media lainnya. Untuk mendapatkan gambaran mengenai kritik karya teater, berikut kami sampaikan contoh kritik tersebut dalam bentuk tertulis :

Teater Gandrik Ubah Kisah Pahlawan Super Jadi Kritik Sosial


22.04.2013
Munarsih Sahana
Gundala (tengah), ayahnya Petir dan istrinya Sedah dalam pertunjukan berjudul "Gundala Gawat" dari Teater Gandrik Yogyakarta. (VOA/Munarsih Sahana)
Teater Gandrik di Yogyakarta mementaskan “Gundala Gawat” karya budayawan Goenawan Mohamad, parodi kisah pahlawan super yang dijadikan kritik sosial.
Setelah sukses dipentaskan oleh Teater Gandrik di Yogyakarta, pekan lalu, pertunjukan drama komedi yang sarat dengan kritik sosial berjudul “Gundala Gawat” karya penyair dan penulis Goenawan Mohamad, akan dipentaskan di Jakarta dan Surabaya serta kota-kota lain di Indonesia.
Gundala Gawat mengangkat kisah pahlawan super lokal bernama Gundala Putra Petir yang populer dalam komik karya Hasmi Suraminata, yang juga bermain dalam pementasan ini. Gundala dituduh warga bersekongkol dengan ayahnya, Petir, karena setiap ada serangan petir selalu terjadi perampokan bank.
Di akhir cerita, Gundala bersama pahlawan super lokal lainnya diperintahkan oleh komikus Hasmi untuk menyusup kedalam kelompok lawan. Namun Gundala terperangkap tidak berdaya sementara pahlawan lainnya berbalik ikut melakukan perampokan.
Pementasan drama oleh Teater Gandrik Yogyakarta tersebut penuh humor dan kritik sosial seperti penyertaan peristiwa penyerangan lapas Cebongan, kegagalan Ujian Nasional dan kasus-kasus korupsi.
Menurut Goenawan, drama tersebut lebih sebagai gurauan yang tidak harus ditanggapi secara serius.
”Ini bergurau, kalau kita melihat lelucon lalu dicari maknanya maka leluconnya hilang. Karena melihat hidup secara arif kan, bahwa..ya, kita harus bisa ketawa untuk hal-hal yang serius juga,” ujarnya baru-baru ini di Yogyakarta.
Dalang dan penulis Sudjiwo Tedjo mengaku kaget karya Goenawan penuh lelucon, meskipun ia menilai karya tersebut masih mirip dengan kolom Catatan Pinggir karya penulis yang sama yang rutin dimuat majalah Tempo.
“Ini kelanjutan dari Catatan Pinggir. Catatan Pinggir versi ndeso, versi kethoprakan. Justru guyonan itu sangat serius menurut saya, dengan menulis ini respons nya lebih banyak daripada ia menulis Catatan Pinggir,” ujarnya.
Sutradara dan penata musik Djaduk Ferianto mengatakan, ia puas dengan pentas di Taman Budaya Yogyakarta 16 dan 17 April dengan penonton yang berjubel. Tiket untuk pentas di Taman Ismail Marzuki Jakarta 26 dan 27 April sudah habis terjual sehingga ada pementasan tambahan malam berikutnya. Pada Juli, Teater Gandrik akan pentas di Surabaya dan ke kota-kota lainnya di Indonesia.
“Moga-moga nanti untuk Jakarta lebih cair, lebih nikmat dan lebih terjaga (permainannya). Kalau untuk Jakarta, perubahannya yang lokal Jawa mungkin sedikit dijadikan bahasa Indonesia atau mungkin dengan aktualitas yang terjadi di Jakarta,” ujarnya.
Salah satu penonton, Ria yang selama ini aktif dalam pementasan teater boneka Papermoon merasa bangga pada pementasan drama Gundala Gawat. Sebab, pementasan seperti ini terbilang langka, mengingat penyelenggaraannya tidak mudah dan sulit mencari dukungan sponsor.
“Sangat senang karena ini kesempatan mewah menurutku, karena makin ke sini makin jarang orang yang konsentrasi dan terus mau untuk berteater dan dengan pilihan-pilihan cerita naskah yang sehari-hari,” ujarnya.
Dayat, penggemar Teater Gandrik, menyukai kritik tajam terhadap apa yang sedang terjadi di sekitar masyarakat namun disampaikan dengan gaya humor.
“Berbobot meskipun ini sebenarnya ringan, mengambil dari cerita komik tapi memberikan kritik yang cukup dalam,” ujarnya.

 Sumber http://www.voaindonesia.com/content/teater-gandrik-ubah-kisah-pahlawan-super-jadi-kritik-sosial/1646202.html

  
Nah, setelah Anda membaca contoh tersebut, tentu Anda telah memiliki bayangan bagaimana cara mengkritik teater. Selanjutnya, silakan Anda mencoba untuk mencari karya kritik teater.
Bacalah dengan baik tulisan kritik tersebut, selanjutnya isilah kolom-kolom berikut dengan penjelasan yang baik.
Cara mengerjakannya, silakan mengisi kolom dengan merujuk pada rambu-rambu berikut.
Rambu-rambu :
1.      Pahami pengertian dan jenis-jenis kritik yang dilakukan pada karya teater !
2.      Kuasai ciri-ciri perwatakan tokoh !
3.      Kuasai unsur-unsur yang membentuk pergelaran teater !
4.      Setelah itu isilah kolom berikut dengan baik dan benar !

No
Komponen yang dikritik
Uraian
1
Judul
……………………………………………………………..
2
Jenis Kritik
……………………………………………………………..
3
Pemeranan tokoh
……………………………………………………………..
4
Tata pentas
……………………………………………………………..
5
Tata busana dan rias
……………………………………………………………..
6
Simbol-simbol
……………………………………………………………..

Nah, bagaimana? Apakah Anda sudah bisa mengkritik secara sederhana berdasarkan latihan diatas? Kalau Anda sudah bisa, berarti Anda sudah mampu mengapresiasi hasil karya seni teater dengan baik.
 Untuk lebih meningkatkan kemampuan Anda, silahkan baca kembali materi mengenai Kritik teater. Anda juga bisa menyaksikan pertunjukkan teater di sekitar Anda atau menyaksikan melalui rekaman dan juga internet. Kemudian Anda kritik karya tersebut berdasarkan materi yang telah Anda pahami mengenai komponen-komponen yang harus dikritik.

Selamat  mencoba !


Sumber :
 Soetedja Zakaria, (2014). Buku Seni Budaya untuk SMA/MA/SMK Kelas X, (2014). Jakarta : Kemdikbud
http://id.shvoong.com/humanities/theory-criticism/2347683-pengertian-kritik-dan-cara-mengkritik/


MATERI AJAR GAMBAR BENTUK

 Oleh : Ridwan (guru Seni Budaya SMKN 7 Jakarta) Menggambar bentuk merupakan  cara menggambar dengan meniru  obyek dengan mengutamakan  kemi...