Selasa, 15 Februari 2011

ISTILAH, UNSUR TEATER DAN UNSUR PEMENTASAN TEATER



A.  Beberapa istilah dalam teater

Dalam membicarakan drama banyak  kita   jumpai  istilah  yang  erat hubungannya dengan   pementasan drama, antara lain sebagai berikut :

1.  Babak
Babak  merupakan  bagian  dari  lakon  drama. Satu  lakon  drama mungkin  saja terjadi dari satu, dua, atau tiga  babak mungkin juga lebih. Dalam pementasan, batas antara babak satu dan babak lain ditandai  dengan  turunnya  layar,  atau lampu penerang  panggung dimatikan sejenak.  Bila lampu itu dinyalakan  kembali atau layar ditutup kembali, biasanya ada perubahan penataan panggung yang menggambarkan setting yang berbeda.  Baik setting tempat, waktu, maupun suasana terjadinya suatu peristiwa.

2.  Adegan
Adegan   adalah   bagian   dari   babak. Sebuah   adegan   hanya menggambarkan   satu   suasana   yang   merupakan   bagian   dari rangkaian  suasana-suasana  dalam  babak. Setiap  kali  terjadi penggantian adegan tidak selalu diikuti dengan penggantian setting.

3.  Prolog

Prolog  adalah  kata  pendahuluan  dalam  lakon  drama. Prolog memainkan  peran yang besar dalam menyiapkan pikiran penonton agar  dapat  mengikuti  lakon(cerita)  yang  akan  disajikan.     Itulah sebabnya,  prolog  sering  berisi  lakon,  perkenalan  tokoh-tokoh  dan pemerannya, serta konflik-konflik yang akan terjadi di panggung.

4.  Epilog
Epilog  adalah  kata  penutup  yang  mengakhiri  pementasan. Isinya, biasanya  berupa  kesinpulan  atau  ajaran  yang  bisa  diambil  dari tontonan drama yang baru disajikan.

5.  Dialog
Dialog adalah percakapan para pemain.Dialog memainkan peran yang amat penting karena menjadi pengarah lakon drama. Artinya, jalannya cerita drama itu diketahui oleh penonton lewat dialog para pemainnya. Agar  dialog  itu  tidak  hambar,  pengucapannya  harus disertai penjiwaan emosional.   Selain itu, pelafalannya harus jelas dan cukup  keras  sehingga  dapat  didengar  semua  penonton. Seorang pemain  yang  berbisik,  misalnya  harus  diupayakan  agar  bisikannya tetap dapat didengarkan para penonton.

6.  Monolog
Monolog adlah percakapan seorang pemain dengan dirinya sendiri. Apa yang diucapkan itu tidak ditujukan kepada orang lain.    Isinya, mungkin ungkapan rasa senang, rencana yang akan dilaksanakan, sikap terhadap suatu kejadian, dan lain-lain.

7.  Mimik
Mimik adalah   ekspresi   gerak-gerik   wajah (air   muka)   untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain. Ekspresi wajah pemain ayng sedang sedih tentu saja berbeda dengan ketika sedang marah.


8.  Gestur
Gestur adalah gerak-gerak besar, yaitu gerakan tangan kaki, kepala, dan tubuh pada umumnya yang dilakukan pemain.

9.  Bloking 
Adalah  aturan  berpindah  tampat  dari  tempat  yang  satu  ke tempat yang lain agar penampilan pemain tidak menjemukan.

10. Gait
Gait berbeda dengan bloking karena gait diartikan tanda-tanda khusus pada cara berjalan dan cara bergerak pemain.

Layar adalah kain penutup panggung bagiandepan yang dapar dibuka dan ditutup sesuai kebutuhan.   Tidak semua panggung dilengkapi layar

B.  Unsur-unsur Lakon Teater

1.  Tema cerita
Agar cerita menarik perlu dipilih topik, contoh    tema masalah Keluarga topiknya misal Pilih Kasih

2.  Amanat
Sebuah sajian drama yang menarik dan bermutu adalah memiliki pesan moral yang ingin disampaikan kepada penonton.

3.  Plot
Lakon  drama  yang  baik  selalu  mengandung  konflik,  plot  adalah  jalan cerita drama. Plot drama berkembang secara bertahap, mulai dari konflik yang     sederhana     hingga     menjadi     konflik     yang     kompleks sampai pada penyelesaian konflik. Penyelesaian konflik ada yang happy ending,  atau  berakhir  sedih  atau  penonton  disuguhkan  cerita  dengan menafsirkan sendiri akhir cerita.

Ada enam tahapan plot :
a.  Eksposisi, tahap ini disebut tahap pergerakan tokoh
b.  Konflik,dalam tahap ini mulai ada kejadian
c.  Komplikasi,kejadian  mulai  menimbulkan  konflik  persoalan  yang  kait-mengkait tetapi masih menimbulkan tanya tanya.
d.  Krisis,dalam tahap ini berbagai konflik sampai pada puncaknya
e.  Resolusi, dalam tahap ini dilakukan penyelesaian konflik
f.  Keputusan, adalah akhir cerita

4. Karakter
Karakter  atau  perwatakan  adalah  keseluruhan  ciri-ciri jiwa  seorang tokoh dalam drama. Ada tokoh berwatak sabar, ramah dan suka menolong, sebaliknya bisa saja tokoh berwatak jahat ataupun bisa juga tokoh berdialek suku tertentu.

5. Dialog
Jalan cerita lakon diwujudkan melalui dialog dan gerak yang dilakukan para pemain. Dialog-dialog yang dilakukan harus mendukung karakter tokoh yang diperankan dan dapat menghidupkan plot lakon.

6. Setting
Setting adalah tempat, waktu, dan suasana terjadinya suatu adegan. Karena semua adegan dilaksanakan di panggung maka panggung harus bisa menggambarkan  setting  apa  yang  dikehendaki.     Panggung  harus  bisa menggambarkan tempat adegan itu terjadi: di ruang tamu, di rumah sakit, di tepi  sungai,  di  kantin,  atau  di  mana? Penataan  panggung  harus mengesankan waktu: zaman dahulu, zaman sekarang, tengah hari, senja, dini hari, atau kapan?

Demikian    pula    unsur    panggung    harus    diupayakan    bisa menggambarkan suasana: gembira, berkabung, hiruk pikuk, sepi mencekam, atau  suasana-suasana  lain.     Semua  itu  diwujudkan  dengan  penataan panggung dan peralatan yang ada.

Panggung  dan  peralatan  biasanya  amat  terbatas.    Sementara  itu, penggambaran   setting   sering   berubah-ubah   hampir   setiap   adegan. Bagaimana caranya?   Penata panggung yang mengatur semua itu.   Karena itu,  penata  panggung  harus  jeli  dan  pandai-pandai  memanfaatkan  dan mengatur    peralatan    yang    terbatas    itu    untuk    sedapat-dapatnya menggambarkan tempat, waktu, dan suasana seperti yang dikehendaki lakon drama.

7. Interpretasi

Apa yang dipertontonkan ceritanya harus logis, dengan kata lain lakin yang dipentaskan harus terasa wajar. Bahkan harus diupayakan menyerupai kehidupan yang sebenarnya.

C.  Unsur-unsur Pementasan

a.   Naskah
b.   Pemain
c.   Sutradara
d.   Tata rias
e.   Tata biarama
f.    Tata panggung
g.   Tata lampu
h.   Tata Suara
i.    Pentonton


a.   Naskah
Naskah adalah karangan yang berisi cerita atau lakon. Dalam naskah tersebut termuat nama-nama dan lakon tokoh dalam cerita, dialog yang diucapkan para tokoh dan keadaan panggung yang diperlukan. Bahkan kadang-kadang  juga  dilengkapi  penjelasan  tentang  tata  busana,  tata lampu dan tata suara (musik pengiring)

b.  Pemain
Pemain adalah orang yang memeragakan cerita, berapa jumlah pemain yang disesuaikan dengan tokh yang dibutuhkan dalam cerita, setiap tokoh akan diperankan seorang pemain

c.  Sutradara
Sutradara adalah pemimpin dalam pementasan, tugas sutradara sangat banyak dan beban tanggung jawabnya cukup berat, sutradara memilih naskah, menentukan pokok-pokok penafsiran naskah, pemilihan pemain, melatih pemain dan mengkoordinasikan setiap bagian

d.  Tata Rias
Fungsi  tata  rias  adalah  menggambarkan  tokoh  yang  dituntut  misalnya seorang pemain memerankan tokoh kakek maka wajah dan rambutnya dibuat tamak tua.

e.  Tata Busana
Penata rias dan penata b usana harus bekerjasama saling memahami, saling  menyesuaikan,  penata  ris  dan  penata  busana  harus  mampu menafsirkan  dan  memantaskan  ris  dan  pakaian  yang  terdapat  dalam naskah cerita misal tokoh nenek melarat, maka pakaian yang dikenakan tidak menggunakan pakaian yang bagus dan mahal, karena kesalahan dalam busana dapat juga mengganggu jalannya cerita.

f.   Tata Lampu
Pengaturan  cahaya  di  panggung  dibutuhkan  untuk  mendukung  jalan cerita yang menerangkan tempat dan waktu kejadian pada sebuah cerita, untuk  menggambarkan  kejadian  pada  malam  hari  atau  siang  hari, menggambar kejadian misal di tempat romantis.

g.  Tata Suara
Musik dalam pertunjukan drama adalah untuk mendukung suasana, misal penggambaran  kesedihan,  ketakutan,  kemarahan  dan  lain-lain  misal penggambaran cerita kesedihan seorang anak, kalau diiringi musik yang sesuai,  tentu  kesedihan  ini  akan  lebih  terasa  diiringi  musik  berirama lembut, alat musik yang digunakan hanya seruling yang mendayu-dayu, ketika adegan kemarahan diiringi musik berirama cepat dan keras, penata musik berirama cepat lagu yang sudah ada ataupun menciptakan lagu sendiri, penata suara harus memiliki kreativitas yang tinggi.

h.  Penonton
Penonton termasuk unsur penting dalam pementasan.Bagaimanapun sempurnanya  persiapan,  kalau  tak  ada  penonton  rasanya  tak  akan dimainkan.Jadi, segala unsur yang telah disebutkan sebelumnya pada akhirnya untuk penonton.





Sumber : Sri Hermawati Arini,dkk (Seni Budaya Jilid 2, BSE)

Selasa, 08 Februari 2011

SENI TERAPAN KELAS XI (POWER POINT)


Silahkan download link dibawah ini :
Seni Terapan Kelas XI

SENI MUSIK KELAS X (POWER POINT)


Silahkan download link dibawah ini :
Seni musik kelas X

UNSUR PEMBENTUK TEATER


Dok. koleksi pribadi

Dalam khasanah teater dewasa ini dapat disimpulkan unsur utama teater  adalah  naskah  lakon,  sutradara,  pemain,  dan  penonton.  Tanpa keempat unsur tersebut pertunjukan teater tidak bisa diwujudkan. Untuk mendukung  unsur  pokok  tersebut  diperlukan  unsur  tata  artistik  yang memberikan   keindahan   dan   mempertegas   makna   lakon   yang dipentaskan.

Naskah Lakon

Salah satu ciri teater modern adalah digunakannya naskah lakon yang     merupakan  bentuk  tertulis  dari  cerita  drama  yang  baru  akan menjadi  karya  teater  setelah  divisualisasikan  kedalam  pementasan. Naskah Lakon pada dasarnya adalah karya sastra dengan media bahasa kata.   Mementaskan   drama   berdasarkan   naskah   drama   berarti memindahkan  karya  seni  dari  media  bahasa  kata  ke  media  bahasa pentas.  Dalam  visualisasi  tersebut  karya  sastra  kemudian  berubah esensinya  menjadi  karya  teater.  Pada  saat  transformasi  inilah  karya sastra   bersinggungan   dengan   komponen-komponen   teater,   yaitu sutradara, pemain, dan tata artistik.

Naskah  lakon  sebagaimana  karya  sastra  lain,  pada  dasarnya mempunyai struktur yang jelas, yaitu tema, plot, setting, dan tokoh. Akan tetapi,     naskah  lakon     yang  khusus  dipersiapkan  untuk  dipentaskan mempunyai  struktur  lain  yang  spesifik.  Struktur  ini  pertama  kali  di rumuskan  oleh  Aristoteles  yang  membagi  menjadi  lima  bagian  besar, yaitu  eksposisi (pemaparan),  komplikasi,  klimaks,  anti  klimaks  atau resolusi,   dan   konklusi     (catastrope).   Kelima   bagian   tersebut   pada perkembangan  kemudian  tidak  diterapkan  secara  kaku,  tetapi  lebih bersifat fungsionalistik.

Sutradara

Di  Indonesia  penanggung  jawab  proses  transformasi  naskah lakon  ke  bentuk  pemanggungan  adalah  sutradara  yang  merupakan pimpinan utama kerja kolektif sebuah teater. Baik buruknya pementasan teater  sangat  ditentukan  oleh  kerja  sutradara,  meskipun  unsur-unsur lainnya  juga  berperan  tetapi  masih berada  di  bawah  kewenangan sutradara.

Sebagai pimpinan, sutradara selain bertanggung jawab terhadap kelangsungan  proses  terciptanya  pementasan  juga  harus  bertanggung jawab  terhadap  masyarakat  atau  penonton.  Meskipun  dalam  tugasnya seorang  sutradara  dibantu  oleh  stafnya  dalam  menyelesaikan  tugas-tugasnya    tetapi sutradara tetap merupakan penanggung jawab utama. Untuk  itu  sutradara  dituntut  mempunyai  pengetahuan  yang  luas  agar mampu mengarahkan pemain untuk mencapai kreativitas maksimal dan dapat mengatasi kendala teknis yang timbul dalam proses penciptaan. Sebagai   seorang   pemimpin,   sutradara   harus   mempunyai pedoman  yang  pasti  sehingga  bisa  mengatasi  kesulitan  yang  timbul. Menurut  Harymawan (1993)  Ada  beberapa  tipe  sutradara     dalam menjalankan penyutradaraanya, yaitu:

1. Sutradara  konseptor. 
  Ia  menentukan  pokok  penafsiran  dan menyarankan  konsep  penafsiranya kepada  pemain.  Pemain dibiarkan mengembangkan konsep itu secara kreatif. Tetapi juga terikat kepada pokok penafsiran tsb.    Sutradara  diktator.  Ia  mengharapkan  pemain  dicetak  seperti dirinya   sendiri,   tidak   ada   konsep   penafsiran   dua   arah   ia mendambakan seni sebagai dirinya, sementara pemain dibentuk menjadi robot - robot yang tetap buta tuli.

2   Sutradara  koordinator.
 Ia  menempatkan  diri  sebagai  pengarah atau  polisi  lalulintas  yang  mengkoordinasikan  pemain  dengan konsep pokok penafsirannya.

3   Sutradara paternalis.
 Ia bertindak sebagai guru atau suhu yang mengamalkan  ilmu  bersamaan  dengan  mengasuh  batin  para anggotanya.Teater   disamakan   dengan   padepokan,   sehingga pemain adalah cantrik yang harus setia kepada sutradara.

Pemain

Untuk mentransformasikan naskah di atas panggung dibutuhkan pemain yang mampu menghidupkan tokoh dalam naskah lakon menjadi sosok yang nyata. Pemain adalah alat untuk memeragakan tokoh. tetapi bukan Sekedar  alat  yang  harus  tunduk  kepada  naskah.  Pemain mempunyai  wewenang  membuat  refleksi  dari  naskah  melalui  dirinya. Agar  bisa  merefleksikan  tokoh  menjadi  sesuatu  yang  hidup,  pemain dituntut  menguasai aspek-aspek  pemeranan  yang  dilatihkan  secara khusus,  yaitu  jasmani  (tubuh/fisik), rohani  (jiwa/emosi),  dan  intelektual. Memindahkan naskah lakon ke dalam panggung melalui media pemain tidak  sesederhana  mengucapkan  kata  -  kata  yang  ada  dalam  naskah lakon   atau sekedar memperagakan keinginan penulis   melainkan proses pemindahan mempunyai karekterisasi tersendiri, yaitu harus menghidupkan bahasa kata (tulis) menjadi bahasa pentas (lisan).

Penonton

Tujuan   terakhir   suatu   pementasan   lakon   adalah   penonton. Respon  penonton  atas  lakon  akan  menjadi  suatu  respons  melingkar, antara  penonton  dengan  pementasan.  Banyak  sutradara  yang  kurang memperhatikan   penonton   dan   menganggapnya   sebagai   kelompok konsumsi  yang  bisa  menerima begitu  saja  apa  yang  disuguhkan sehingga  jika  terjadi  suatu  kegagalan  dalam  pementasan  penonton dianggap  sebagai  penyebabnya  karena  mereka  tidak  mengerti  atau kurang terdidik untuk memahami sebuah pementasan.

Kelompok  penonton  pada  sebuah  pementasan  adalah  suatu komposisi organisme kemanusiaan yang peka. Mereka pergi menonton karena  ingin  memperoleh  kepuasan,  kebutuhan,  dan    cita-cita.  Alasan lainnya  untuk  tertawa,  untuk  menangis,  dan  untuk  digetarkan  hatinya, karena   terharu   akibat   dari   hasrat   ingin   menonton.   Penonton meninggalkan rumah, antri karcis dan membayar biaya masuk dan lainlain karena teater adalah dunia ilusi dan imajinasi. Membebaskan pola rutin  kehidupan  selama  waktu  dibuka  hingga  ditutupnya  tirai  untuk memuaskan hasrat jiwa khayalannya.

Eksistensi  teater  tidak  mengenal  batas  kedudukan  manusia. Secara   ilmiah,   manusia   memiliki   kekuatan   menguasai   sikap   dan tindakannya. Tindakannya pergi ke teater disebabkan oleh keinginan dan kebutuhan  berhubungan  dengan  sesama.  Sehingga  menempuh  jalan sebagai berikut : 

A.  Bertemu  dengan  orang  lain  yang  menonton  teater.  Teater merupakan suatu lembaga sosial.
B.  Memproyeksikan    diri    dengan    peranan-peranan    yang melakonkan  hidup  dan  kehidupan        di atas  pentas  secara khayali. Teater adalah salah satu cara proses interaksi sosial. Dalam                  memandang  suatu  karya  seni  penonton  hendaklah  mampu memelihara  adanya suatu                      objektivitas     artistik. Ini bisa tercapai dengan menentukan jarak estetik  (aestetic distance) sehubungan dengan       karya seni yang dihayatinya. Pemisahan yang dimaksud, antara penonton dan yang ditonton, pada       seni teater diusahakan dengan jalan:
C.   Menciptakan penataan yang tepat atas auditorium dan pentas. 
D.   Adanya batas artistik proscenium sebagai bingkai gambar. 
E.   Pentas yang terang dan auditorium yang gelap.
Semua    itu    akan    membantu    kedudukan    penonton    sehingga memungkinkan untuk melakukan perenungan.

Tata Artistik

Tata artistik merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari teater. Pertunjukan teater menjadi   tidak utuh tanpa adanya tata artistik yang mendukungnya. Unsur artistik disini meliputi tata panggung  , tata busana,  tata  cahaya,  tata  rias,  tata  suara,  tata  musik  yang  dapat membantu pementasan menjadi sempurna sebagai pertunjukan. Unsur-unsur artistik menjadi lebih berarti apabila sutradara dan penata artistik mampu memberi makna kepada bagian-bagian tersebut sehingga unsur-unsur  tersebut  tidak  hanya  sebagai  bagian  yang  menempel  atau mendukung,  tetapi  lebih  dari  itu  merupakan  kesatuan  yang  utuh  dari sebuah pementasan.

Tata panggung adalah    pengaturan pemandangan di panggung selama  pementasan  berlangsung.  Tujuannya  tidak  sekedar  supaya permainan bisa dilihat penonton tetapi juga menghidupkan    pemeranan dan suasana   panggung.

Tata  cahaya  atau  lampu   
Adalah  pengaturan  pencahayaan  di daerah sekitar panggung yang fungsinya untuk menghidupkan permainan dan   dan   suasana   lakon   yang   dibawakan,  sehingga  menimbulkan suasana istimewa.

Tata    musik   
Adalah    pengaturan    musik    yang    mengiringi pementasan  teater  yang  berguna  untuk  memberi  penekanan  pada suasana permainan dan mengiringi pergantian babak dan adegan.

Tata suara 
Adalah pengaturan keluaran suara yang dihasilkan dari berbagai macam sumber bunyi seperti; suara aktor, efek suasana, dan musik. Tata suara diperlukan untuk menghasilkan harmoni.

Tata rias dan tata busana 
Adalah      pengaturan rias dan busana yang dikenakan   pemain. Gunanya untuk menonjolkan watak peran yang dimainkan, dan bentuk fisik pemain   bisa terlihat jelas penonton.


Senin, 07 Februari 2011

SENI TEATER KELAS X (POWER POINT)


Silahkan download link di bawah ini :

Seni Teater Kelas X

DEFINISI TEATER

Definisi Teater  
Teater  berasal  dari  kata  Yunani,      “theatrom”  
 (bahasa  Inggris,Seeing  Place)  yang  artinya  tempat  atau  gedung  pertunjukan.  Dalam perkembangannya,  dalam  pengertian  lebih  luas  kata  teater  diartikansebagai segala hal yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dengan demikian, dalam rumusan sederhana teater adalah pertunjukan, misalnyaketoprak,  ludruk,  wayang,  wayang  wong,  sintren,  janger,  mamanda, dagelan,  sulap,  akrobat,  dan  lain  sebagainya.   

Teater  dapat  dikatakan sebagai manifestasi dari aktivitas naluriah, seperti misalnya, anak-anak bermain  sebagai  ayah  dan  ibu,  bermain  perang-perangan,  dan  lain sebagainya.     Selain  itu,  teater  merupakan  manifestasi  pembentukan strata  sosial  kemanusiaan  yang  berhubungan  dengan  masalah  ritual. Misalnya, upacara adat maupun upacara kenegaraan, keduanya memiliki unsur-unsur  teatrikal  dan  bermakna  filosofis.  Berdasarkan  paparan  di atas,  kemungkinan  perluasan  definisi  teater  itu  bisa  terjadi.   

Tetapi batasan tentang teater dapat dilihat dari sudut pandang sebagai berikut:
 

“tidak ada teater tanpa aktor, baik berwujud riil manusia maupun boneka, terungkap di layar maupun pertunjukan langsung yang dihadiri penonton, serta  laku  di  dalamnya  merupakan  realitas  fiktif”,  (Harymawan,  1993).
 

Dengan demikian teater adalah pertunjukan lakon yang dimainkan di atas pentas dan disaksikan oleh penonton. 

MATERI AJAR GAMBAR BENTUK

 Oleh : Ridwan (guru Seni Budaya SMKN 7 Jakarta) Menggambar bentuk merupakan  cara menggambar dengan meniru  obyek dengan mengutamakan  kemi...