Selasa, 07 April 2015

TOKOH LEGENDARIS PELUKIS INDONESIA


1. RADEN SALEH ( Semarang 1807 – 1880 )

Salah satu Pelukis Maestro Legendaris Indonesia pada era sebelum kemerdekaan, saat Indonesia masih dijajah Belanda. Raden Saleh merupakan salah satu Pelukis Maestro Indonesia yang diakui sebagai Pelukis kelas Dunia. Karya-karya lukisanya merupakan saksi sejarah, banyak menceritakan tentang situasi pada jaman perjuangan dan kehidupan masyarakat khususnya Jawa. Salah satu karya lukisanya yang terkenal adalah “Penangkapan Diponegoro”, Raden Saleh juga mendapat pengahargaan atas talenta karya seninya, sehingga Beliau mendapat beasiswa dari pemerintah Belanda untuk Studi di Negara Belanda dan Negara-negara Eropa lainya. Gaya aliran Lukisan saleh adalah gaya Naturalism, Realism dan Klasik.

Salah satu karya lukisan Raden Saleh berjudul " Berburu" media lukisan cat minyak diatas canvas, dikoleksi oleh Museum Mesdag, Belanda.


2. AFFANDI ( Cirebon 1907 – 1990 )

Merupakan salah satu Pelukis Maestro Legendaris Indonesia yang namanya telah mendunia karena karya-karya lukisan abstraknya yang unik dan berkarakter, dimana gaya lukisanya tersebut belum pernah ada, atau belum pernah diciptakan oleh pelukis sebelumya. Gaya aliran Lukisanya merupakan gaya baru dalam aliran lukisan modern khususnya ekspresionism. Karya-karya Lukisanya banyak mendapatkan apresiasi dari para pengamat seni baik dari dalam dan luar negeri, beliau aktif berpameran tunggal di Negara-negara seperti: Inggris, Eropa, Amerika dan India, pada masa Tahun 1950-an.

Affandi merupakan salah satu Pelukis yang paling produktif, dimana beliau telah menciptakan lebih dari 2 ribu lukisan selama hidupnya, karyanya telah tersebar diseluruh pelosok Dunia dan dikoleksi oleh para Kolektor kelas lokal dan Dunia.
Gaya aliran Lukisan Affandi adalah Abstrak yang masuk dalam bagian aliran ekspresionism.
Salah satu karya lukisan Affandi berjudul "Wajah - wajah putra Irian" , media lukisan cat minyak diatas canvas, ukuran 98cm X 126cm, dibuat tahun 1974 


3. BASUKI ABDULLAH ( Surakarta 1915 – 1993 )

Pelukis Maestro Legendaris Indonesia yang lahir di Surakarta, bakat dan talenta melukisnya yang luar biasa terlihat dari setiap karya Lukisanya, warna-warna yang terkombinasi matang, kehalusan goresan, kesempurnaan anatomi obyek dan komposisi obyek.

Basuki Abdullah semasa karirnya sebagai seorang Pelukis Maestro, pernah mengawali karirnya studi di Belanda, dan mengadakan perjalanan ke Negara-negar Eropa untuk memperdalam pengetahuanya tentang Seni rupa, diantaranya adalah Negara Prancis dan Italia, Negara asal dari para Pelukis Maestro kelas Dunia ( Picasso, Leonardo da Vinci, Renoir, Monet, Paul Gaugin, Dll. ).

Salah satu prestasinya yang mengharumkan nama Bangsa Indonesia di mata Dunia adalah kesuksesanya menjuarai lomba sayembara melukis pada waktu penobatan Ratu Yuliana (Belanda ) pada 6 September 1948, Basuki Abdullah menjadi juara dan berhasil menyingkirkan 87 Pelukis dari Eropa, beliau juga pernah diangkat menjadi Pelukis tetap di Istana Merdeka, dan karya-karyanya banyak menghiasi ruangan Istana Merdeka.

Semasa hidupnya Basuki Abdullah banyak menerima penghargaan baik dari dalam dan luar Negeri atas Dedikasinya dalam Dunia seni khususnya Lukisan, gaya aliran Lukisan Basuki Abdullah adalah Realism dan Naturalism.

Salah satu lukisan Basuk Abdullah berjudul " Diponegoro memimpin pertempuran " media lukisan cat minyak diatas canvas, ukuran 150cm X 120cm, dibuat tahun 1940

4. HENDRA GUNAWAN ( Bandung 1918 – 1983 )

Hendra Gunawan lahir di Bandung, Jawa Barat pada tahun 1918, dan Wafat di Denpasar, Bali. 17 Juli 1983.
Hendra Gunawan adalah seorang pelukis, penyair, pematung dan pejuang gerilya. Selama masa mudanya ia bergabung dengan tentara pelajar dan merupakan anggota aktif dari Poetera (Pusat Tenaga Rakyat) dan organisasi yang dipimpin oleh Sukarno dan lain-lain. Ia juga aktif dalam Persagi (Asosiasi Pelukis Indonesia, sebuah organisasi yang didirikan oleh S. Soedjojono dan Agus Djaya pada tahun 1938.

Hendra Gunawan memiliki komitmen dalam pandangan politiknya, mengabdikan hidupnya untuk memerangi kemiskinan, ketidak adilan dan kolonialisme. Dia dipenjara di Kebon Waru atas keterlibatannya di Institut Budaya Populer (Lekra), sebuah organisasi budaya yang berafiliasi dengan komunis sekarang sudah tidak berfungsi, Partai Indonesia (PKI). Penahanan Hendra Gunawan selama 13 Tahun dimulai pada tahun 1965 hingga tahun 1978. Selama di dalam penjara beliau tetap aktif berkarya membuat lukisan bertema tentang kehidupan masyarakat pedesaan pada jamanya, seperti: Panen Padi, berjualan buah, kehidupan nelayan, suasana panggung tari-tarian, dll. Hampir disemua Lukisanya berlatar belakang alam.


Dengan talenta sebagai seorang Pelukis senior dan memiliki karakter karya Lukisan yang khas, menjadikan namanya masuk dalam daftar Pelukis Maestro Legendaris ternama Indonesia.


Karakter Lukisan beliau sangat berani dengan ekspresi goresan cat tebal, dan ekspresi warna kontras apa adanya, karya Lukisanya banyak dikoleksi oleh para kolektor dalam negeri. Perjalanan Aliran Lukisan karya Hendra Gunawan pada awalnya adalah realism yang melukiskan tema-tema tentang perjuangan sebelum kemerdekaan, namun setelah era kemerdekaan, karya-karya lukisan ber metamorfosa kedalam aliran lukisan ekspresionism, tema-tema lukisanya tentang sisi-sisi kehidupan masyarakat pedesaan.


Salah satu lukisan karya Hendra Gunawan berjudul " Mencari kutu rambut " media lukisan cat minyak diatas canvas, ukuran 84cm X 65cm, dibuat tahun 1953.

5. S. SUDJOJONO (Kisaran, Sumatera Utara 1913 - 1985

S. Sudjojono lahir di Kisaran, Sumatera Utara 14 Desember 1913 , dan wafat  di Jakarta 25 Maret 1985. Soedjojono lahir dari keluarga transmigran asal Pulau Jawa. Ayahnya, Sindudarmo, adalah mantri kesehatan di perkebunan karet Kisaran, Sumatera Utara, beristrikan seorang buruh perkebunan. Ia lalu dijadikan anak angkat oleh seorang guru HIS, Yudhokusumo. Oleh bapak angkat inilah, Djon (nama panggilannya) diajak ke Jakarta (waktu itu masih bernama Batavia) pada tahun 1925. Ia menamatkan HIS di Jakarta, lalu melanjutkan SMP di Bandung, dan menyelesaikan SMA di Perguruan Taman Siswa di Yogyakarta. Di Yogyakarta itulah ia sempat belajar montir sebelum belajar melukis kepada R.M. Pringadie selama beberapa bulan. Sewaktu di Jakarta, ia belajar kepada pelukis Jepang, Chioji Yazaki.

S. Sudjojono sempat menjadi guru di Taman Siswa seusai lulus dari Taman Guru di perguruan yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara itu. Ia ditugaskan oleh Ki Hajar Dewantara untuk membuka sekolah baru di Rogojampi, Banyuwangi, tahun 1931. Namun ia kemudian memutuskan untuk menjadi pelukis. Pada tahun 1937, ia ikut pameran bersama pelukis Eropa di Kunstkring Jakarya, Jakarta. Inilah awal namanya dikenal sebagai pelukis, Pada tahun itu juga ia menjadi pionir mendirikan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi). Oleh karena itu, masa itu disebut sebagai tonggak awal seni lukis modern berciri Indonesia. Ia sempat menjabat sebagai sekretaris dan juru bicara Persagi. Selain sebagai pelukis, ia juga dikenal sebagai kritikus seni rupa pertama di Indonesia. Lukisanya memiliki karakter Goresan ekspresif dan sedikit bertekstur, goresan dan sapuan bagai dituang begitu saja ke kanvas. 


Pada periode sebelum kemerdekaan, karya lukisan S.Sudjojono banyak bertema tentang semangat perjuangan rakyat Indonesia dalam mengusir penjajahan Belanda, namun setelah jaman kemerdekaan kemudian karya Lukisanya banyak bertema tentang pemandangan Alam, Bunga, aktifitas kehidupan masayarakat, dan cerita budaya.
Salah satu lukisan karya S. Sudjojono berjudul " Seko (perintis gerilya), media lukisan cat minyak diatas canvas, ukuran 173,5cm X 194cm

6. POPO ISKANDAR ( Garut, Jawa Barat 1929 – 2000 )
Sang Pelukis Maestro ini terkenal dengan ciri khas Lukisan bertema kucing, dilukis dalam gaya ekspresionism bernuansa minimalis, cat tebal dan bertekstur. Salah satu alasan Popo Iskandar gemar melukis kucing, seperti yang pernah beliau ucapkan semasa hidup “ Tabiat kucing variatif, manja, binal dan buas, tapi penurut. Karena itu saya menyukainya” katanya. Dia juga melukis tema-tema binatang lainya seperti ayam dan harimau.

Lukisan Popo Iskandar banyak dikoleksi dan sekaligus dijadikan sebagai icon dalam rumah bergaya modern dan minimalis, karya-karya Lukisanya banyak mendapatkan apresiasi dari para pengamat seni, baik dalam dan luar negeri.

Salah satu lukisan karya Popo Iskandar berjudul " Kucing mata hijau ", media lukisan cat minyak diatas canvas, ukuran 30cm X 40cm 

Sumber : JAVADESINDO Art Gallery
Rumah online Lelang lukisan maestro original

Senin, 06 April 2015

PERENCANAAN PAMERAN SENI RUPA



Sebuah pameran seni rupa perlu adanya rancangan yang sistematis dan baik agar waktu pelaksanaan pameran dapat berjalan lancar. Berikut akan diuraikan secara singkat tahapan perencanaan sebuah pameran seni rupa :

1. Menentukan Tujuan
    Langkah pertama adalah menentukan tujuan penyelenggaraan pameran yang akan dilaksanakan       nanti untuk apa.Penyelenggaraan pameran dapat bertujuan untuk kemanusiaan, komersil ataupun pendidikan

2. Menentukan Tema
    Tema bertujuan untuk memperjelas tujuan penyelenggaraan pameran sehingga misi pameran dapat tercapai

3. Menyusun Kepanitiaan
   Kepanitiaan perlu dibuat untuk mendukung pelaksanaan pameran. Penyusunan struktur organisasi kepanitiaan pameran disesuaikan dengan tingkat kebutuhan, situasi dan kondisi sekolah. Penyelenggaraan pameran akan berjalan lancar apabila ada pembagian tugas yang jelas.
Berikut susunan kepanitiaan Pameran seni rupa :

a. Ketua
b. Wakil Ketua
c. Sekretaris
d. Bendahara
e. Seksi Sekretaris
f. Seksi Usaha
g. Seksi Publikasi dan Dokumentasi
h. Seksi Dekorasi dan Penataan Ruang
i. Seksi Stand
j. Seksi Pengumpulan dan Seleksi Karya
k. Seksi Perlengkapan
l. Seksi Keamanan
m. Seksi Konsumsi

4. Menentukan Waktu dan Tempat
    Pelaksanaan Pameran disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran, misalnya pada akhir semester atau pada waktu penerimaan raport semester.

5. Menyusun Agenda Kegiatan
   Agenda kegiatan disusun dalam sebuah tabel degan mencantumkan komponen jenis kegiatanan, dan waktu pelaksanaan serta siapa yang bertanggungjawab.

6. Menyusun Proposal Kegiatan
    Penyusunan kegiatan dapat digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pameran.Selain itu proposal kegiatan bisa digunakan untuk mencari dana dari pihak ketiga (Sponsorship) untuk membantu kelancaran kegiatan. Secara umum isi proposal antara lain; latar belakang, tema, nama kegiatan, landasan dasar penyelenggaran, tujuan, susunan panitia, anggaran biaya, jadwal kegiatan, ketentuan sponsorship dan lain-lain.

BERKARYA SENI RUPA 3 DIMENSI

Oleh : Yosi Respati Saptono,SS

Secara umum karya seni rupa tiga dimensi adalah hasil seni rupa yang bisa dilihat dari berbagai arah dan memiliki ukuran antara lain panjang, lebar (tebal), dan tinggi. Karya 3 dimensi terbentuk dari berbagai teknik dan media yang berbeda dengan teknik 2 dimensi.
Berbagai bentuk karya 3 dimensi antara lain adalah semua karya seni bangun, seni patung, seni keramik, seni instalasi (termasuk seni kontemporer) dan lain sebagainya. Untuk membuat karya 3 dimensi maka kita perlu mengenal bahan untuk berkreasi dengan karya 3 dimensi. Untuk bahan-bahan berkreasi karya rupa 3 dimensi setidaknya dapat dikategorikan menjadi 3 bagian yaitu :
A.     Bahan Lunak
Yang termasuk dalam bahan lunak antara lain kertas, karton,gabus dan Styrofoam. Bahan-bahan ini mudah didapatkan di sekitar kita dan membentuknya dapat dengan alat-alat yang sederhana seperti gunting, silet, cutter, pisau. Bahkan karya berbahan kertaspun bisa dibentuk tanpa menggunakan alat, misalnya dengan cara dilipat.

Untuk pemula  maka bahan-bahan lunak ini sangat membantu untuk membuat karya 3 dimensi. Teknik untuk karya berbahan karton ataupun gabus pun bisa dengan menggunakan teknik toreh ataupun teknik potong

B.     Bahan Liat
Yang termasuk dalam bahan liat antara lain tanah liat, gips, plastisin dan lilin. Bahan inipun juga mudah didapatkan di lingkungan kita, hanya saja kualitas pengolahan bahanlah yang membedakan setiap bahan tersebut. Sebagai contoh misalnya tanah liat.

Tanah liat dapat dibagi menjadi beberapa jenis yaitu :
1.       Earthenware, umumnya warna merah,pembakarannya dengan suhu 1000 derajat
2.      Stoneware, umumnya berwarna putih, pembakarannya lebih tinggi
3.      Porselin, memiliki tekstur yang lebih halus dan hasilnya keras

C.     Bahan Keras
Yang termasuk dalam bahan keras antara lain kayu, batu dan logam. Ketiganya merupakan bahan yang sering dugunakan oleh perupa sejak jaman dahulu. Karena sifatnya yang keras dan tahan lama terutama batu dan logam maka pengerjaan karya 3 dimensi berbahan tersebut memerlukan teknik dan peralatan khusus.

Peralatan seperti gergaji,ketam, pahat, kapak, alat pelebur, alat pencetak, bahkan las pun sangat diperlukan dalam pembuatannya. Teknik cetak misalnya setidaknya menggunakan cara a cire perdue ataupun bivalve yang telah dipakai sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu oleh seniman jaman dahulu.

Langkah – Langkah Berekspresi dalam Karya Seni Rupa 3 Dimensi
            Penciptaan karya seni rupa 3 dimensi merupakan kegiatan berkarya rupa 3 dimensi untuk mengungkapkan pikiran, perasaan dan pengalaman hidup sang seniman menjadi perwujudan visual dilandasi kepekaan artistic. Berikut adalah proses berkarya seni rupa 3 dimensi secara bertahap ;
A.     Aspek Konseptual
Yaitu konsep awal dari sebuah penciptaan sebelum dilakukan aktifitas berkarya.
1.       Penemuan Sumber Inspirasi atau penemuan gagasan (ide)
a.      Sumber Internal (dari dalam sang seniman sendiri) seperti harapan, cita-cita, emosi, gairah, kepribadian dan pengalaman-pengalaman.
b.      Sumber Eksternal  seperti hubungan seniman dengan Tuhan, dengan sesama ataupun lingkungannya
2.      Penetapan Interes Seni
a.      Interes Pragmatis, seni untuk mencapai tujuan tertentu seperti tujuan politis, moral, agama dan lain-lain.
b.      Interes Reflektif, seni sebagai pencerminan realitas actual dan khayali
c.       Interes Estetis, melepaskan diri dari nilai pragmatis dan instrumentalis atau bisa disebut juga seni untuk seni
3.      Penetapan Interes Bentuk
Menetapkan bentuk apa yang akan dibuat seperti ;
a.      Bentuk figurative (objek alami)
b.      Bentuk Semi Figurative (distorsi dari bentuk alam)
c.       Bentuk Non Figurative (bentuk tanpa objek)/abstrak
4.      Penetapan Interes Estetis
a.      Prinsip keindahan Pramodern, konsep pelestarian  kaidah estetik tradisional
b.      Prinsip keindahan Modern, konsep mengutamakan gaya personal, penemuan sendiri, kekinian, orisinalitas
c.       Prinsip keindahan Posmodern, konsep seni yang berkaitan dengan symbol, permainan tanda dan makna, ironic, perpaduan yang lama dengan yang baru.

B.     Aspek Visual
1.       Struktur Visual
Yaitu menciptakan dengan tema-tema tertentu seperti tema perjuangan, tema social, tema religious, tema persahabatan dan sebagainya.
2.      Komposisi
Karya mempertimbangkan empat pokok prinsip komposisi seni rupa seperti proporsi, keseimbangan, irama, dan kesatuan
3.      Gaya Pribadi
Merupakan ciri khas pribadi seniman dalam menciptakan karya seni. Contoh karya 2 dimensi Affandi dengan gaya abstrak dan impresionisme, Raden Saleh dengan gaya dramaris aristokrasi,S. Soedjojono dengan gaya menghadirkan suasana heroism dan nasionalisme.

C.     Aspek Operasional
1.       Tahap Persiapan
Mulai dari pemilihan bahan, alat dan bahan pendukung
2.      Tahap Pelaksanaan
Aktivitas berkreasi mulai dari awal hingga penyelesaian
3.      Tahap Akhir
Tahap pembersihan menyeluruh, memberikan kemasan sebelum siap dipamerkan

Membentuk Tiga Dimensi
A.     Membentuk dengan tanah liat
1.       Teknik pijit atau pinch
2.      Teknik Slab
3.      Teknik Pilin atau coil
4.      Teknik Putar
B.     Membentuk dengan bahan keras
1.       Teknik pahat
2.      Teknik ukir
3.      Teknik las

Karya-Karya Seni Tiga Dimensi

1.     Patung : Perahu (Anusapati - 2000)


Title : "Perahu"
Artist : Anusapati
Year : 2000
Bahan : Kayu.
Ukuran : 15 x 80 x 175 cm.
Koleksi Galeri Nasional
Patung “Perahu” (2000) dengan bahan kayu ini, mengabstraksikan bentuk perahu yang ramping dengan keempat cadiknya. Dalam menangkap esensi bentuk, karya ini bisa hadir sebagai laju tubuh prahu yang dinamis, dengan disertai pasakpasak cadik yang memberi kesimbangan ritme gerak. Anusapati memiliki style yang kuat untuk menghadirkan abstraksi benda-benda terpinggirkdari laju kemajuan teknologi. Ia juga piawai dalam mengolah bahan kayu dari jenis apapun, bahkan dari jenis material yang dianggap tidak berharga.
Lewat pilihan material dan pengamatan pada objekobjek, Anusapati menegaskan komitmen untuk mengangkat problem lingkungan alam. Isu tersebut juga merupakan wacana sangat aktual dalam seni kontemporer, hal ini sebagai tanggapan pada problem global kerusakan lingkungan. Makna dasar yang diungkapkan pada karya ini adalah bagaimana seharusnya manusia agar tetap bisa menghargai artefak-artefak tradisinya yang terpinggirkan. Karena dalam benda-benda itu terkandung nilai kearifan lokal dan makna menjaga keseimbangan alam sekitar.

2.     Patung : Born And Freedom (Heri Dono - 2004)

Title : "Born And Freedom"

artist : Heri Dono
Year : 2004
Media Campuran.
Ukuran : 35 x 65 x 90 cm.
Koleksi Galeri Nasional
Karya “Born and Freedom” (2004) merupakan instalasi yang merupakan jajaran lima pasang figur manusia burung di dinding, yang digandengkan dengan rantai pada binatang-binatang di lantai di depannya. Pada manusia burung di dadanya tertanam mesin dan warna tubuhnya memancarkan ekspresi kusam arkhaik. Pada binatang-binatang dengan akspresi yang sama, di kaki belakangnya tepasang roda-roda. Figur-figur hibrid ini lahir sebagai makhluk mitologis yang menggabungkan dunia masa lalu dengan teknologi masa kini, sekaligus menantang kebebasan dunia masa kini. 
Heri Dono dikenal sebagai perupa kontemporer Indonesia yang dalam karya-karyanya banyak menggabungkan idiom-idiom tradisi seperti wayang dan benda-benda arkhaik dengan bentuk-bentuk dan problem masa kini. Pada penggabungan yang  aneh dan muskil pada objekobjeknya, sering muncul berbagai makna yang satiris dan paradoksal.
Berbagai ungkapan tersebut merupakan respon dan sikap kritisnya yang intens pada kondisi dunia yang sakit. Dengan deformasi yang brutal, objek-objek sering mengungkapkan kritik dan parodi terhadap siatuasi masa kini, seperti isu-isu politik dan kebudayaan yang sedang aktual.

3.     Patung : Anungga Rungga ( Lingga Yoni ) (Agoes Jolly - 1992)


Title : "Anungga Rungga ( Lingga Yoni )"
Artist : Agoes Jolly
Year : 1992
Bahan : Besi, Pipa, Bubuk Marmer.
Ukuran : 3,5 x 120 x 2,25 cm.
Koleksi Galeri Nasional
Karya instalasi “Anungga-Rungga (Lingga Yoni)” (1992) ini merupakan suatu rangkaian bentukbentuk yang terdiri dari abstraksi lingga yoni yang tergantung, dan diapit di kanan kiri oleh dua bentuk gunungan. Pada bagian bawah, terdapat suatu konstruksi kerangka besi dalam bentuk ruang persegi yang tegak dari lantai. Dasar lantai tempat berdiri konstruksi, terdiri dari bubuk marmer putih yang diatur dalam bentuk empat persegi empat dan tepinya berupa batu kerikil.
Karya instalasi ini memadukan dua bentuk karakter, yaitu abstraksi yang dibangun dari citra pementasan wayang dan disandingkan dengan konstruksi infrastruktur modern. Karya ini secara simbolik mengungkapkan bersatunya lingga dan yoni dalam suatu pentas kehidupan, dan momen itu disangga atau berada dalam kokohnya konstruksi bangunan modern. Simbol itu mengungkapkan nilai paradoks, yaitu konstradiksi dan kebenaran dalam penyatuan nilai-nilai budaya tradisi dan modern. Penyatuan cinta dalam kehidupan bisa tidak terbatas pada sekat-sekat nilai budaya.

4.     Patung : Belajar Antre Kepada Semut (Krisna Murti - 1996)



Title : "Belajar Antre Kepada Semut"

Artist : Krisna Murti
Year : 1996
Video Instalasi.
Ukuran : 400 x 800 cm.
Koleksi Galari Nasional
Karya instalasi “Belajar Antre Kepada Semut” (1996) ini memberi gambaran secara ironis, bagaimana makhluk-makhluk singa yang perkasa harus belajar pada semut untuk antre. Dalam konfigurasi bentukbentuk singa yang berjajar dengan televisi video di depannya, tersaji suasana yang absurd. Demikian juga karakter yang ditampilkan dari patung-patung singa yang terbuat dari anyaman dengan muka seperti topeng, dan rambutnya yang gimbal terurai, memberi citra yang kuat sebagai sosok-sosok anarkis dari dunia tradisional yang belum maju. Hal itu sangat kontras dengan televisi video yang masing-masing di depan singa, yang memberi kesan modern dan teknologis. Terlebih dalam video itu ditampilkan gambaran semut-semut yang sudah lebih berperadaban, karena mempunyai disiplin antre yang ketat.
Karya instalasi ini membuka wacana tentang perbenturan nilai-nilai tradisi dan modern. Karya ini juga memberi makna simbolis tentang bagaimana penguasa yang keras dan bersikap anarkis harus bisa belajar pada rakyat kecil yang lemah tetapi disiplinnya kuat. Krisna Murti merupakan salah satu perupa kontemporer Indonesia yang sangat dinamis dalam penjelajahan kreativitasnya lewat new media art.






Sumber : 

 

- Buku Seni Budaya untuk SMA/MA/SMK kelas x. Kemdikbud. Jakarta
- www.galerynasional.co.id


                                                                       
                                                                       
 






















Dog

























































MATERI AJAR GAMBAR BENTUK

 Oleh : Ridwan (guru Seni Budaya SMKN 7 Jakarta) Menggambar bentuk merupakan  cara menggambar dengan meniru  obyek dengan mengutamakan  kemi...