Selasa, 15 Februari 2011

PELAJARAN AKTING


ENAM PELAJARAN PERTAMA BAGI CALON AKTOR MENURUT BOLESLAVSKY


1. Pelajaran pertama   : Konsentrasi

          Pemusatan  pikiran  merupakan  latihan  yang  penting  dalam  akting, konsentrasi bertujuan aagar actor dapat mengubah diri menjadi orang lain , yaitu peran yang dibawakan . juga berarti aktor mengalami dunia yang lain dengan memusatkan segenap cita, rasa dan karsanya pada dunia lain itu. Jadi tidak boleh perhatiannya goyah pada dirinya sendiri dan pada penonton. Meskipun lakon berjalan, konsentrasi aktor tidak boleh mengendor, juga jika saat itu tidak kebagian dialog atau gerakan .kesiapan batin untuk mengikuti jalannya   cerita   sampai   berakhir,   memerlukan   konsentrasi. Latihan konsentrasi dapat dilakukan melalui fisik (seperti yoga), latihan intelek atau kebudayaan(misalnya menghayati musik, puisi,seni lukis) dan latihan sukma (melatihan kepekaan sukma menanggapi segala macam situasi).

2. Pelajaran kedua   : Ingatan Emosi.

          The  transfer  of  emotion  merupakan  cara  efektif  untuk  menghayati suasana  emosi  peran  secara  hidup  wajar  dan  nyata.  Jika  pelaku  harus bersedih , dengan suatu kadar kesedihan tertentu dan menghadirkan emosi yang serupa, maka kadar kesedihan itu takatannya tidak akan berlebihan, sehingga tidak terjadi over acting. Banyak peristiwa yang menggoncangkan emosi secara  keras dan  hanya  aktor yang  pernah mengalami goncangan serupa dapat menampilkan emosi serupa kepada penonton dengan takaran yang tidak berlebihan.

3. Pelajaran ketiga   : Laku Dramatik

          Tugas  utama  aktor  menghidupkan  atau  memperagakan  karakter tokoh  yang  diperankannya,  dan  menghidupkan  aspek  dramatisasi  melalui ekspresi   atau   mimik   wajah melalui   dialog,   dan   pemanfaatan   seting pendukung (misal membanting).

          Aktor harus selalu mengingat apa tema pokok dari lakon itu dan dari perannya, untuk menuju garis dan titik sasaran yang tepat dengan begitu ia dapat melatih berlaku dramatik

Artinya bertingkah laku dan berbicara bukan sebagai dirinya sendiri, tetapi sebagai pemeran, untuk itu memang diperlukan penghayatan terhadap tokoh itu secara mendalam sehingga dapat diadakan adaptasi

4. Pelajaran keempat : Pembangunan watak

          Setelah menyadari perannya dan titik sasaran untuk peranannya itu aktor harus membangun wataknya sehingga sesuai dengan tuntutan lakon. Pembangunan watak itu didahului dengan menelaah struktur fisik, kemudian mengidentifikasiannya dan menghidupkan watak itu seperti halnya wataknya sendiri. Dalam proses terakhir itu diri aktor telah luluh dalam watak peran yang dibawakannya, atau sebaliknya watak peran itu telah merasuk kedalam diri sang aktor.

5. Pelajaran Kelima   : Observasi

          Jika ingatan emosi,  laku dramatik dan pembangunan watak sulit dilakukan secara personal, maka perlu diadakan observasi untuk   tokoh yang sama dengan peran yang dibawakan. Untuk memerankan tokoh pengemis dengan baik , perlu mengadakan observasi terhadap pengemis dengan ciri fisik, psikis dan sosial yang sesuai .

6. Pelajaran Keenam   : Irama

          Semua  kesenian  membutuhkan  irama,  akting  seorang  aktor  juga harus diatur iramanya, agar titik sasaran dapat dicapai , agar alur dramatik dapat mencapai puncak dan penyelesaian. Irama juga memberikan variasi adegan,  sehingga  tidak membosankan. Irama  permainan  ditentukan  oleh konflik yang terjadi dalam setiap adegan.

7.   Suara dan Cakapan

          Suara dan cakapan adalah dua hal pokok yang harus digarap dengan nada  yang   sesuai,  karena  keduanya  sangat  menentukan  suksesnya pementasan.    Siswa perlu dilatih mengucapkan vocal a, I, u, e, o dengan mulut terbuka penuh.   Mungkin dalam percakapan sehari-hari ini tidak perlu; akan tetapi di pentas, hal-hal yang sehari-hari perlu diproyeksikan karena suara  diharapkan  dapat  sampai  pada  penonton  di  deretan  tempat  duduk paling belakang.

          Ada  kalanya  seorang  pemain  mampu  mengucapkan  kata  dengan jelas atau “las-lasan”, tetapi toh dialog yang diucapkannya tidak merangsang pengertian.  Jika ini terjadi, maka persoalannya pada apa yang lazim disebut phrasering technique atau teknik mengucapkan dialog.  Kalimat atau dialog yang panjangharus dipenggal-penggal  lebih dahulu, sesuai denga  satuansatuan pikiran yang dikandungnya.

          Satu  hal  lagi  yang  masih  berhubungan  dengan  latihan  vokal  ialah perlunya dipahami adanya nada ucapan.   Kata “gila” dapat berarti umpatan keras, pujian, kekaguman, jika diucapkan dengan nada yang berbeda-beda. Ini artinya nada ucapan tidak hanya berfungsi untuk menciptakan dinamika, tetapi juga menciptakan makna.

          Pada  saat  pemain  mengucapkan  dialog,  kata-kata  ternyata  tidak diucapkan datar, tetapi terkandung di dalamnya lagu kalimat.   Lagu kalimat itu menyarankan pertanyaan, perintah, kekaguman, kemarahan, kebencian, kegembiraan,   dan   sebagainya. Di   samping   itu,   lagu   kalimat   juga menyarankan  dialek  tertentu,  misalnya  dialek  Jawa  seperti  terdengar  dari lagu kalimat yang diucapkan pemeran dalam drama seri Losmen; dalam film Naga Bonar terdengar lagu kalimat yang menyarankan dialek Batak.

 Gaya Akting

Pemahaman  dan  penafsiran  tentang  prinsip  berteater,  dalam  proses aktualisasinya oleh para seniman penggarap atau sutradara, terbagi dalam dua pemahaman yang berbeda yaitu :

A.  Teatrikalisme  adalah  praktek  berteater  yang  bertolak  dari  anggapan bahwa teater adalah Teater. Suatu dunia dengan kaidah-kaidah tersendiri yang  berbeda  dgn  kaidah-kaidah  kehidupan,  teater  tidak  perlu  sama dengan  kehidupan  kehidupan  distilasi (digayakan)  dan  di  Distorsi (dirusak), prinsip seperti ini dapat kita lihat dalam teater-teater tradisional. Atau teater- teater kontemporer.

Melahirkan  gaya  akting  grand  style  (  akting  di  besar-besarkan  )  dan Komikal  yaitu  gaya  akting  dengan  mengekplorasi  kelenturan  tubuh sehingga menampilkan tubuh-tubuh dengan gestikulasi    yang unik dan
lucu

B. Realisme adalah eater harus merupakan ilusi    atau cermin kehidupan nyata (Realitas). Teater Ilusionis, kehidupan ditiru setepat mungkin agar ilusi tercapai.Pemahaman ini   berkembang   dalam teater   barat (konvensional).  Gaya  aktingnya  adalah  gaya  realis  yaitu  wajar  mirip dengan gaya kehidupan sehari-hari.



Sumber : Sri Hermawati Arini,dkk (Seni Budaya Jilid 2, BSE)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MATERI AJAR GAMBAR BENTUK

 Oleh : Ridwan (guru Seni Budaya SMKN 7 Jakarta) Menggambar bentuk merupakan  cara menggambar dengan meniru  obyek dengan mengutamakan  kemi...