Pengunjung

Translate

Cari Blog Ini

Memuat...

Selasa, 08 Februari 2011

Unsur Pembentuk Teater

Unsur Pembentuk Teater
Dalam khasanah teater dewasa ini dapat disimpulkan unsur utama teater  adalah  naskah  lakon,  sutradara,  pemain,  dan  penonton.  Tanpa keempat unsur tersebut pertunjukan teater tidak bisa diwujudkan. Untuk
mendukung  unsur  pokok  tersebut  diperlukan  unsur  tata  artistik  yang memberikan   keindahan   dan   mempertegas   makna   lakon   yang dipentaskan.

Naskah Lakon
Salah satu ciri teater modern adalah digunakannya naskah lakon yang     merupakan  bentuk  tertulis  dari  cerita  drama  yang  baru  akan menjadi  karya  teater  setelah  divisualisasikan  kedalam  pementasan. Naskah Lakon pada dasarnya adalah karya sastra dengan media bahasa kata.   Mementaskan   drama   berdasarkan   naskah   drama   berarti memindahkan  karya  seni  dari  media  bahasa  kata  ke  media  bahasa pentas.  Dalam  visualisasi  tersebut  karya  sastra  kemudian  berubah esensinya  menjadi  karya  teater.  Pada  saat  transformasi  inilah  karya sastra   bersinggungan   dengan   komponen-komponen   teater,   yaitu sutradara, pemain, dan tata artistik.
Naskah  lakon  sebagaimana  karya  sastra  lain,  pada  dasarnya mempunyai struktur yang jelas, yaitu tema, plot, setting, dan tokoh. Akan tetapi,     naskah  lakon     yang  khusus  dipersiapkan  untuk  dipentaskan
mempunyai  struktur  lain  yang  spesifik.  Struktur  ini  pertama  kali  di rumuskan  oleh  Aristoteles  yang  membagi  menjadi  lima  bagian  besar, yaitu  eksposisi (pemaparan),  komplikasi,  klimaks,  anti  klimaks  atau resolusi,   dan   konklusi     (catastrope).   Kelima   bagian   tersebut   pada perkembangan  kemudian  tidak  diterapkan  secara  kaku,  tetapi  lebih bersifat fungsionalistik.

Sutradara
Di  Indonesia  penanggung  jawab  proses  transformasi  naskah lakon  ke  bentuk  pemanggungan  adalah  sutradara  yang  merupakan pimpinan utama kerja kolektif sebuah teater. Baik buruknya pementasan teater  sangat  ditentukan  oleh  kerja  sutradara,  meskipun  unsur-unsur lainnya  juga  berperan  tetapi  masih berada  di  bawah  kewenangan sutradara.

Sebagai pimpinan, sutradara selain bertanggung jawab terhadap kelangsungan  proses  terciptanya  pementasan  juga  harus  bertanggung jawab  terhadap  masyarakat  atau  penonton.  Meskipun  dalam  tugasnya seorang  sutradara  dibantu  oleh  stafnya  dalam  menyelesaikan  tugas-tugasnya    tetapi sutradara tetap merupakan penanggung jawab utama. Untuk  itu  sutradara  dituntut  mempunyai  pengetahuan  yang  luas  agar mampu mengarahkan pemain untuk mencapai kreativitas maksimal dan dapat mengatasi kendala teknis yang timbul dalam proses penciptaan. Sebagai   seorang   pemimpin,   sutradara   harus   mempunyai
pedoman  yang  pasti  sehingga  bisa  mengatasi  kesulitan  yang  timbul. Menurut  Harymawan (1993)  Ada  beberapa  tipe  sutradara     dalam menjalankan penyutradaraanya, yaitu:

1.   Sutradara  konseptor.  Ia  menentukan  pokok  penafsiran  dan menyarankan  konsep  penafsiranya          kepada  pemain.  Pemain dibiarkan mengembangkan konsep itu secara kreatif. Tetapi juga terikat kepada pokok penafsiran tsb.    Sutradara  diktator.  Ia  mengharapkan  pemain  dicetak  seperti dirinya   sendiri,   tidak   ada   konsep   penafsiran   dua   arah   ia mendambakan seni sebagai dirinya, sementara pemain dibentuk menjadi robot - robot yang tetap buta tuli.

2   Sutradara  koordinator.  Ia  menempatkan  diri  sebagai  pengarah atau  polisi  lalulintas  yang  mengkoordinasikan  pemain  dengan konsep pokok penafsirannya.

3   Sutradara paternalis. Ia bertindak sebagai guru atau suhu yang mengamalkan  ilmu  bersamaan  dengan  mengasuh  batin  para anggotanya.Teater   disamakan   dengan   padepokan,   sehingga pemain adalah cantrik yang harus setia kepada sutradara.

Pemain
Untuk mentransformasikan naskah di atas panggung dibutuhkan pemain yang mampu menghidupkan tokoh dalam naskah lakon menjadi sosok yang nyata. Pemain adalah alat untuk memeragakan tokoh. tetapi
bukan     sekedar  alat  yang  harus  tunduk  kepada  naskah.  Pemain mempunyai  wewenang  membuat  refleksi  dari  naskah  melalui  dirinya. Agar  bisa  merefleksikan  tokoh  menjadi  sesuatu  yang  hidup,  pemain dituntut  menguasai    aspek-aspek  pemeranan  yang    dilatihkan  secara khusus,  yaitu  jasmani  (tubuh/fisik), rohani  (jiwa/emosi),  dan  intelektual. Memindahkan naskah lakon ke dalam panggung melalui media pemain tidak  sesederhana  mengucapkan  kata  -  kata  yang  ada  dalam  naskah lakon   atau sekedar memperagakan keinginan penulis   melainkan proses pemindahan mempunyai    karekterisasi    tersendiri,    yaitu    harus menghidupkan bahasa kata (tulis) menjadi bahasa pentas (lisan).

Penonton
Tujuan   terakhir   suatu   pementasan   lakon   adalah   penonton. Respon  penonton  atas  lakon  akan  menjadi  suatu  respons  melingkar, antara  penonton  dengan  pementasan.  Banyak  sutradara  yang  kurang
memperhatikan   penonton   dan   menganggapnya   sebagai   kelompok konsumsi  yang  bisa  menerima begitu  saja  apa  yang  disuguhkan sehingga  jika  terjadi  suatu  kegagalan  dalam  pementasan  penonton
dianggap  sebagai  penyebabnya  karena  mereka  tidak  mengerti  atau kurang terdidik untuk memahami sebuah pementasan. Kelompok  penonton  pada  sebuah  pementasan  adalah  suatu komposisi organisme kemanusiaan yang peka. Mereka pergi menonton karena  ingin  memperoleh  kepuasan,  kebutuhan,  dan    cita-cita.  Alasan lainnya  untuk  tertawa,  untuk  menangis,  dan  untuk  digetarkan  hatinya, karena   terharu   akibat   dari   hasrat   ingin   menonton.   Penonton meninggalkan rumah, antri karcis dan membayar biaya masuk dan lainlain karena teater adalah dunia ilusi dan imajinasi. Membebaskan pola rutin  kehidupan  selama  waktu  dibuka  hingga  ditutupnya  tirai  untuk memuaskan hasrat jiwa khayalannya.
Eksistensi  teater  tidak  mengenal  batas  kedudukan  manusia. Secara   ilmiah,   manusia   memiliki   kekuatan   menguasai   sikap   dan tindakannya. Tindakannya pergi ke teater disebabkan oleh keinginan dan kebutuhan  berhubungan  dengan  sesama.  Sehingga  menempuh  jalan sebagai berikut : 

x   Bertemu  dengan  orang  lain  yang  menonton  teater.  Teater merupakan suatu lembaga sosial.
x   Memproyeksikan    diri    dengan    peranan-peranan    yang melakonkan  hidup  dan  kehidupan  di  atas  pentas  secara khayali. Teater adalah salah satu cara proses interaksi sosial.Dalam  memandang  suatu  karya  seni  penonton  hendaklah  mampu memelihara  adanya suatu objektivitas artistik. Ini bisa tercapai dengan menentukan jarak estetik  (aestetic distance) sehubungan dengan karya seni yang dihayatinya. Pemisahan yang dimaksud, antara penonton dan yang ditonton, pada seni teater diusahakan dengan jalan:
x   Menciptakan penataan yang tepat atas auditorium dan pentas. 
x   Adanya batas artistik proscenium sebagai bingkai gambar. 
x   Pentas yang terang dan auditorium yang gelap.
Semua    itu    akan    membantu    kedudukan    penonton    sehingga memungkinkan untuk melakukan perenungan.

Tata Artistik
Tata artistik merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari teater. Pertunjukan teater menjadi   tidak utuh tanpa adanya tata artistik yang mendukungnya. Unsur artistik disini meliputi tata panggung  , tata busana,  tata  cahaya,  tata  rias,  tata  suara,  tata  musik  yang  dapat membantu pementasan menjadi sempurna sebagai pertunjukan. Unsur-unsur artistik menjadi lebih berarti apabila sutradara dan penata artistik mampu memberi makna kepada bagian-bagian tersebut sehingga unsur-unsur  tersebut  tidak  hanya  sebagai  bagian  yang  menempel  atau mendukung,  tetapi  lebih  dari  itu  merupakan  kesatuan  yang  utuh  dari sebuah pementasan.

Tata panggung adalah    pengaturan pemandangan di panggung selama  pementasan  berlangsung.  Tujuannya  tidak  sekedar  supaya permainan bisa dilihat penonton tetapi juga menghidupkan    pemeranan dan suasana   panggung.

Tata  cahaya  atau  lampu    adalah  pengaturan  pencahayaan  di daerah sekitar panggung yang fungsinya untuk menghidupkan permainan dan   dan   suasana   lakon   yang   dibawakan,  sehingga  menimbulkan suasana istimewa.

Tata    musik    adalah    pengaturan    musik    yang    mengiringi pementasan  teater  yang  berguna  untuk  memberi  penekanan  pada suasana permainan dan mengiringi pergantian babak dan adegan.

Tata suara adalah pengaturan keluaran suara yang dihasilkan dari berbagai macam sumber bunyi seperti; suara aktor, efek suasana, dan musik. Tata suara diperlukan untuk menghasilkan harmoni.

Tata rias dan tata busana adalah      pengaturan rias dan busana yang dikenakan   pemain. Gunanya untuk menonjolkan watak peran yang dimainkan, dan bentuk fisik pemain   bisa terlihat jelas penonton.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Share it