Rabu, 18 April 2012

Naskah Drama Pendek 1

“ Percakapan “

Pelaku:
LAMPU JALAN
ANGIN
CEMARA
KABUT


Panggung adalah jalanan.

LAMPU JALAN

"Kau serba usil angin! Serba dingin, serba tak mau diam. Apa tidak bisa kau diam seperti aku, seperti cemara. Usah kau usik kabut yang luruh di tubuhku… biarkan kabut tergenang di jalanan, mungkin kabut hendak membisiki tentang sesuatu yang gaib, yang purba…."

ANGIN

(memotong cakap lampu jalan). "Diam… (dengan heran angin memandang lampu jalan). Aku adalah angin. Yang meliuk ke sana ke mari. Kabutlah tempatku bermain, karena aku rindu, ingin sekali mempermainkannya. Jadi, biarkan jari jemariku gemas untuk memungutnya, menudingnya perlahan-lahan (kembali menghampiri kabut)."

LAMPU JALAN

"Cih! (menatap angin dengan tajam). Tak usahlah kau berkata-kata manis seperti itu! Menjijikan!"

ANGIN

"Aku tidak berkata-kata manis terhadapmu. Kau sendiri, kenapa wajahmu semakin redup dan cemara semakin meranggas. Membosankan… "

Angin terus saja memainkan kabut dengan sedemikian rupa. Angin mengejar-nya, merangkulnya, mencubitinya.

ANGIN

"Kabut, jangan pejamkan matamu. Biarkan aku masuk menembus mata beningmu itu. Aku begitu penasaran dengan segala bentuk putihmu itu. Biarkan aku masuk…"

LAMPU JALAN + CEMARA

"Berisik!!"

LAMPU JALAN

"Sudah cukup! Tidak usah kau teruskan permainanmu itu sudah waktunya kau kembali ke tengah lautan dan menyusuri sungai yang meliuk. Di sana kau bisa bermain sepuasnya bersama ombak dan ikan-ikan. Sudah! kembalikan kabut itu ke tubuhku. Dasar kau yang tak punya bentuk…"

CEMARA

(berucap dengan sabar). "Hei, bagaimana kalau kau mempermainkan dahan-dahanku saja. Sebelum musim  mengugurkan daun-daunnya kau bisa menelisik di antara celah-celahnya, bukan? Kau tidak lihat kalau kabut sudah lelah karena permainanmu!? Merapatlah denganku kabut, angin ini begitu jahat perangainya."

KABUT

(hanya tersenyum)

LAMPU JALAN

"Wahai, kabut! Kau ini serba putih, serba suci, serba tak pernah marah meski kau terpelantingkan angin ke sana kemari. Kau juga tak pernah gerah saat kau dituding matahari, atau saat pepohonan menghisap tubuhmu."

ANGIN

(menatap tajam, menjurus ke arah kabut). "Benarkah kau sudah lelah? Padahal malam belum akan pergi. Sekali lagi, sekali lagi saja aku ingin bermain denganmu. Sebelum kau menjadi bulir-bulir yang jatuh di daunan dan hilang terbias matahari. Sekali lagi saja… (dengan nada memohon). Setelah ini akan kubawa kau ke tempat dimana rerumputan gersang menantimu. Bagaimana? Kau setuju?"

KABUT

(masih tetap dengan senyumnya).

LAMPU JALAN

(dengan sedikit menghardik ia palingkan mukanya ke jalanan). "Terserahhh..."

CEMARA

(tertawa pahit). "Hehh! Kabutlah yang tetap seperti itu. Aku hanya cemara yang sedang menunggu musim untuk menggugurkan daunanku yang serba usang dan coklat, serta melabuhkan bijianku ke arah matahari terbit, merintik ditepian bumi seperti sedia kala.. Heeh! Dan kau lampu jalan bisakah kau meronakan wajahmu itu? Agar terang malam ini."

LAMPU JALAN

"Bagaimana aku bisa merona bila angin terus saja menderu tak mau diam. Biarkan aku merona dengan sendirinya saja. Hei hei! Jauh-jauh dariku! Kau membuatku dingin (ia tepiskan beberapa laron yang mengganggu wajahnya). "

Cemara diam, lampu jalan pun diam. Hanya angin yang tak mau diam. Hilir mudik mengejar-ngejar kabut. Panggung masih tetap redup.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Share it